sinetron-indonesia.comIni Dia Penyebab Sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” Ngk Tamat-Tamat. Barangkali itulah pertanyaan yang muncul dibenak kita ketika sinetron ini tayang di RCTI. Menurut wikipedia “Tukang Bubur Naik Haji” adalah sinetron dengan jumlah episode terpanjang di Indonesia (“Tukang Bubur Naik Haji (1580 episode)) mengalahkan sinetron “Cinta Fitri (1002 episode)” . sumber: daftar sinetron menurut jumlah episode

Ini Dia Penyebab Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Ngk Tamat-Tamat

Ini Dia Penyebab Sinetron Tukang Bubur Naik Haji Ngk Tamat-Tamat

Berikut kami coba menganalisa faktor apa saja yang menjadi alasannya:

1. Sinopsis “Tukang Bubur Naik Haji” yang akrab di masyarakat Indonesia

Cerita keseluruhan Tukang Bubur Naik Haji seperti menonton kehidupan masyarakat sehari-hari, yang di dalamnya termasuk perilaku kita sendiri. Kita yang seolah-olah seorang dermawan sejati, padahal sebenarnya kita sangat mengharapkan pujian orang. Sebenarnya ada kecenderungan kita ingin pamer. Bagaimana kita selalu berpenampilan suci, padahal apa yang kita lakukan seringkali keji. Bahkan kepada orang yang pernah menolong kita sekalipun. Kepalsuan-kepalsuan yang hanya kita sendiri yang tahu, selalu membuat kita tersenyum jengah. Kesemuanya disajikan secara manis dan lucu dalam serial ini.

Ada tokoh Bang Sulam yang penyabar, selalu tersenyum, ia memiliki usaha bubur ayam. Berkat ketekunan dan keikhlasannya, akhirnya ia bisa naik haji dan memperbesar usaha bubur ayamnya. Bang Sulam tinggal bersama Rodiah (Uci Bing Slamet) istrinya, dan Emak (Nani Wijaya).

Tetangga Bang Sulam, H. Muhidin (Latief Sitepu) dan Hj. Maemunah , entah mengapa selalu memusuhi keluarganya. Bahkan anak mereka, Rumanah (Citra Kirana) dilarang berhubungan dengan Robby (Andi Arsyil), adik ipar Bang Sulam. Fitnah-fitnah tentang keluarga Bang Sulam pun berdatangan. Bagaimanakah keluarga Bang Sulam menyikapi segala nikmat dan cobaan yang ia dan keluarga hadapi sehari-hari? Semoga acara ini bisa menjadi cermin bagi kita pemirsa untuk berkaca dan berbenah diri.

2. Rating tinggi

Perolehan rating sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” menempati peringkat  5 besar:

rating tukang bubur naik haji

sumber: @dunia_tv (6 Mei 2015)

3. Ditayangkan pada jam primetime (Setiap Hari jam 19.00 WIB)

Sudah menjadi kebiasaan jika acara yang memiliki rating tinggi pasti ditayangkan pada jam primetime. Hal ini juga membuat rating “Tukang Bubur Naik Haji” stabil karena  yang menonton sinetron ini rata-rata ibu-ibu yang ngk mau ganti channel sampai sinetron ini habis jam tayangnya.

4. Tarif Iklan Yang Tinggi

Berikut petikan pendapatan iklan RCTI

Untuk program acara yang paling banyak menyedot perhatian untuk memasang iklan TV adalah program sinetron di SCTV dan RCTI dengan pendapatan masing-masing sekitar Rp706 miliar dan Rp647,6 miliar.

sumber: metrotvnews.com

Nah, dengan beberapa faktor di atas maka pihak RCTI pasti tetap mempertahankan sinetron “Tukang Bubur Naik Haji” mungkin sampai 1000 episode berikutnya. Logikanya mana ada sih tambang emas yang ditutup?? Kita tunggu saja perkembangan sinetron ini. Semoga jalan ceritanya semakin menarik dan mendidik.

Suka artikel ini? Bagikan:

Komentar

Komentar

Comments are closed.